Oleh : Khadijah Nur Hasanah Assegaf, S.Gz
Jurusan S2 Ilmu Gizi Unhas
Makassar, Coronginformasinews.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai digulirkan pemerintah pada awal 2025 hadir dengan harapan besar: menekan angka stunting dan memastikan setiap anak belajar dalam kondisi kenyang dan sehat. Namun dalam beberapa bulan pelaksanaannya, program ini dihadapkan pada sejumlah kasus keracunan pangan di berbagai daerah. Beragam laporan media dan lembaga mencatat ribuan siswa mengalami gejala sakit setelah menyantap menu MBG, meski secara persentase masih kecil dibanding total penerima manfaat. Pemerintah pun bergerak memperketat pengawasan di seluruh lini.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa pencegahan keracunan tidak bisa dibebankan hanya pada dapur penyedia makanan. Pengawasan harus berlapis, melibatkan sekolah, orang tua, masyarakat, hingga siswa itu sendiri. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan mendorong mekanisme kontrol yang lebih ketat untuk memastikan keamanan pangan di sekolah. Dalam arus perbaikan inilah, guru dan orang tua muncul sebagai pagar terdepan yang menentukan keberhasilan dan keamanan program MBG.
Guru di Garis Depan: Mengawasi, Menolak, dan Mengedukasi
Di sekolah, guru menjadi orang dewasa yang paling dekat dengan siswa saat jam makan MBG berlangsung. Sejumlah imbauan pemerintah dan anggota legislatif menegaskan pentingnya peran mereka.
Kemenkes mendorong guru ikut mencicipi atau mengecek menu sebelum dibagikan kepada siswa, sebagai kontrol kualitas paling awal di lapangan.
Beberapa anggota DPR juga mendorong guru berani menolak menu yang dianggap tidak layak atau mencurigakan.
Dari perspektif keamanan pangan, posisi ini sangat krusial. Guru bisa menjadi “sensor awal” yang peka terhadap kondisi makanan—mulai dari suhu, aroma, tekstur, hingga kebersihan kemasan. Jika ditemukan tanda-tanda makanan basi atau tidak aman, distribusi dapat dihentikan sementara sambil berkoordinasi dengan penyedia dan dinas terkait.
Guru juga berperan sebagai role model pola makan sehat. Berbagai riset menunjukkan bahwa siswa cenderung meniru apa yang dikonsumsi orang dewasa yang mereka hormati. Ketika guru ikut menikmati menu sehat dan memperlihatkan sikap positif terhadap sayur, lauk kukus, atau buah, tingkat penerimaan siswa meningkat.
Tak kalah penting, guru dapat memasukkan edukasi keamanan pangan ke dalam pelajaran. Mulai dari cara cuci tangan yang benar, mengenali ciri makanan basi, hingga pentingnya segera mengonsumsi makanan setelah dibagikan. Pesan-pesan ini dapat disisipkan saat pelajaran IPA, PJOK, atau proyek P5, sejalan dengan Gerakan Sekolah Sehat dan pedoman Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS). Dengan demikian, guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi aktor kunci penjaga keselamatan siswa.
Orang Tua: Mitra Kritis, Bukan Sekadar Penonton
Di rumah, orang tualah yang merasakan dampak program secara nyata—apakah anak terlihat lebih bertenaga, apakah ada keluhan mual, atau justru semakin menyukai sayur. Sejumlah daerah mulai melibatkan orang tua secara formal dalam pengawasan. Di Kota Solo, misalnya, pemerintah melibatkan wali murid dalam memantau kualitas makanan di sekolah.
Peran orang tua dalam konteks MBG mencakup tiga aspek penting:
1. Pemberi umpan balik (feedback) cepat
Orang tua dapat melapor ke sekolah jika anak mengalami gejala sakit setelah makan MBG, memberikan masukan soal porsi, serta menginformasikan alergi atau kondisi khusus.
2. Penguat edukasi di rumah
Orang tua mengajarkan anak mengenali makanan yang rusak atau berbau asam, sekaligus membiasakan pola makan seimbang yang sejalan dengan semangat MBG.
3. Pengawas partisipatif
Orang tua hadir dalam pertemuan komite sekolah, mengikuti sosialisasi, dan mendorong transparansi—mulai dari sumber bahan makanan, penyusunan menu, hingga alur pengaduan jika terjadi insiden.
Dengan keterlibatan aktif orang tua, sekolah tidak berjalan sendirian dalam memastikan keamanan pangan.
Menjaga Harapan, Bukan Mencari Kambing Hitam
Program MBG hadir dari niat mulia: memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan nutrisi layak tanpa memandang latar belakang ekonomi. Banyak orang tua mengaku terbantu karena anak mendapat lauk lengkap dan pengeluaran jajan berkurang. Meski demikian, rangkaian insiden keracunan telah menggoyahkan kepercayaan publik.
Di titik ini, menyalahkan satu pihak saja tidak akan menyelesaikan masalah. Diperlukan penguatan standar dan pengawasan pemerintah, termasuk transparansi ketika insiden terjadi. Sekolah dan guru perlu lebih proaktif menolak menu yang tidak layak serta mengedukasi siswa. Sementara itu, orang tua harus menjadi mitra kritis yang memberi masukan berbasis fakta dan memperkuat kebiasaan makan sehat di rumah.
Jika ketiga unsur—pemerintah, sekolah, dan keluarga—bergerak bersama, Program MBG dapat kembali ke tujuan awalnya: bukan sekadar makan gratis, tetapi makan yang aman, sehat, dan benar-benar bergizi untuk anak-anak Indonesia













