CorongInformasinews,Makassar – Antrian panjang kendaraan di sejumlah SPBU di wilayah Sulawesi Selatan menjadi sorotan pada Sabtu, 28 Maret 2026. Kondisi ini memicu keresahan masyarakat, terutama para pengendara yang harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan BBM jenis Pertalite dan solar.
Fenomena ini disebut-sebut sebagai dampak tidak langsung dari konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Meski terjadi jauh di Timur Tengah, efeknya dirasakan hingga ke Indonesia, termasuk pada distribusi dan ketersediaan bahan bakar minyak di daerah.
Pantauan di lapangan menunjukkan hampir seluruh SPBU di sepanjang jalan utama mengalami lonjakan antrean. Salah satu sopir, Aldo, mengungkapkan kebingungannya terhadap situasi tersebut. Ia mempertanyakan apakah kondisi ini benar-benar dipicu oleh konflik global atau ada faktor lain yang memperparah distribusi BBM di dalam negeri.
Kekhawatiran juga muncul terkait potensi dampak jangka panjang terhadap perekonomian. Jika antrean dan kelangkaan ini terus terjadi, masyarakat menilai hal tersebut dapat mengganggu aktivitas ekonomi dan berujung pada perlambatan bahkan kelumpuhan di beberapa sektor.
Di sisi lain, harga resmi Pertalite di SPBU masih berada di angka Rp10.000 per liter. Namun di tingkat pengecer, harga justru melonjak tajam, mencapai Rp15.000 hingga Rp19.000 per liter. Kondisi ini memicu dugaan adanya praktik penimbunan dan permainan oleh oknum yang memanfaatkan situasi.
Masyarakat pun mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk segera turun tangan melakukan pengawasan ketat. Penindakan terhadap oknum yang diduga melakukan penimbunan atau penyalahgunaan distribusi BBM dinilai penting, agar tidak semakin merugikan konsumen di tengah situasi yang sudah sulit.























